PENGUATAN SOFT SKILLS DAN MANAJEMEN KONFLIK BAGI PENGURUS EKSTRAKURIKULER DI SMK KESEHATAN MULIA HUSADA

Penulis

  • Dina Kurniawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Wiraraja Penulis
  • Moh. Kurdi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Wiraraja Penulis
  • Astri Furqani Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Wiraraja Penulis

Kata Kunci:

Soft Skills, Manajemen Konflik, Kepemimpinan Siswa, Ekstrakurikuler

Abstrak

Pengembangan kompetensi peserta didik pada jenjang sekolah menengah kejuruan tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga memerlukan penguatan kompetensi nonteknis (soft skills) yang menjadi faktor penting dalam membangun kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, dan kemampuan menyelesaikan konflik. Permasalahan yang dihadapi SMK Kesehatan Mulia Husada adalah masih rendahnya kemampuan pengurus ekstrakurikuler dalam berkomunikasi secara efektif, mengelola konflik organisasi, serta menjalankan kepemimpinan yang kolaboratif. Kondisi tersebut berdampak terhadap kurang optimalnya pelaksanaan program organisasi siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan soft skills dan manajemen konflik melalui pendekatan pelatihan partisipatif yang dipadukan dengan pendampingan langsung. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap identifikasi kebutuhan, koordinasi dengan mitra, penyusunan modul, pelaksanaan pelatihan, simulasi studi kasus, pendampingan organisasi, serta evaluasi melalui pre-test, post-test, observasi, dan refleksi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai konsep soft skills dan manajemen konflik. Nilai rata-rata pemahaman meningkat dari 60% menjadi 85%, disertai perubahan perilaku berupa meningkatnya kemampuan komunikasi, penyelesaian konflik secara konstruktif, serta kerja sama antarpengurus ekstrakurikuler. Selain itu, kegiatan menghasilkan modul pelatihan soft skills dan manajemen konflik yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai media pembinaan organisasi siswa. Program ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah melalui implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang melibatkan mahasiswa sebagai pendamping lapangan. Dengan demikian, program pengabdian berhasil meningkatkan kapasitas kepemimpinan siswa sekaligus membangun budaya organisasi yang lebih kolaboratif dan adaptif.

Diterbitkan

2026-04-30